UMAN ADA DISINI
Breaking News
Loading...

Istimewa Seorang Pelajar

Tuesday, February 05, 2013
Saya mengenal seorang praktisi Falun Gong (Falun Dafa), dia yang berasal dari daerah Hei Longjiang adalah seorang pelajar sekolah menengah atas. Pada saat ujian masuk perguruan tinggi, dia telah menderita penyakit Prolapse of lumbar intervertebral disc, terpaksa meninggalkan sekolah beristirahat di rumah untuk memulihkan kesehatan. Orang tua tidak berani mengatakan kepada orang lain, khawatir kelak sulit mendapatkan jodoh, setiap hari cemas karena dia.
Tahun 1996 orang tua sang pelajar melihat ada beberapa orang di sekitarnya yang telah sembuh dari penyakitnya setelah latihan Falun Gong, karena itu menyuruh anaknya yang sakit mengikuti latihan senam dan meditasi itu. Di luar dugaan, setelah latihan dua bulan lebih, penyakitnya menjadi sembuh, dalam kurun waktu itu sebutir obat pun tidak terpakai, keluarganya pun merasa gembira.
Pada tanggal 20 Juli 1999, Presiden China Jiang Zemin tidak mempedulikan kenyataan sebenarnya, secara ilegal mulai menindas Falun Gong. Si pelajar karena telah mendapatkan manfaatnya, dia mengetahui betul propaganda media TV adalah menyimpang, sama sekali adalah cerita bohong. Si pelajar memutuskan untuk pergi ke Beijing mengajukan masalah, dengan pengalaman yang dialami diri sendiri, memberitahu negara "Falun Dafa baik." Siapa menyangka Kantor Pusat Pengajuan Masalah telah menjadi tempat khusus untuk menangkap praktisi Falun Gong, semua yang datang satu pun tidak luput ditangkap. Setelah ditangkap, dia dibawa kembali ke kantor polisi Zhaodong. Pada hari itu juga, empat orang dari Kantor 610 (Komisaris Politik dan Hukum Kota) Zhaodong, masing-masing Fan Xiao Guang, Liu Wei Zhong, Ren Dian Sheng dan Zhao Ren Wu, memerintahkan setiap kantor polisi melakukan penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong yang ditangkap kembali.
Kepala kantor polisi yang bernama Lie Xing Fu, memimpin polisi Ju Ya Gui, Yi Hong Bo, Tan Wei dan Kepala Bagian Hukum Zhu Min serta beberapa polisi yang tidak dikenal namanya, melakukan penindasan terhadap praktisi yang ditangkap kembali, secara gila-gilaan. Dengan memakai sapu, sabuk kulit, galah bambu, sol sepatu, mereka memukul praktisi tak henti-hentinya, dan juga memaksa praktisi memaki-maki Falun Dafa, memaki Guru Li Hongzhi, pendiri Falun Dafa. Si pelajar bagaimanapun tidak mau memaki, sehingga oleh 5-6 orang polisi dipukul jatuh di lantai, celana panjang ditarik lepas, kepala diinjak, dipukul bergantian, setelah capai gantian orang lain memukul lagi, galah bambu dan sapu patah, kulit otot hancur, darah segar bercucuran, meskipun demikian si pelajar juga tidak mau memaki guru. Para polisi melihat dia masih tidak mau menyerah, polisi Ju Ya Gui berteriak: "Ambillah garam, taburkan, coba lihat dia mau maki atau tidak!" Entah polisi yang mana telah mengambil tiga untai kawat besi yang dipelintir jadi satu, dengan menggunakan tang ujung kawat dibikin mata kail, lalu mencambuk tubuh si pelajar. Otot tubuh sebagian besar dipukul hingga bonyok, sangat mengerikan. Si pelajar dari awal hingga akhir tetap tidak mau memaki guru, dia dengan keteguhan jiwa membela Falun Dafa serta kehormatan guru.
Setelah penyiksaan yang begitu kejam, para penjahat mengurung dia ke dalam penjara, setiap hari hanya diberi dua setengah buah "wotou" (semacam roti kukus dari tepung jagung) yang setengah matang, malam tidur tidak ada bantal, hanya sebuah selimut di tempat tidur yang keras. Lingkungan yang buruk, mempercepat lukanya menjadi parah, otot yang membusuk lebih meluas, pada bagian yang paling parah terlihat tulang dan otot terpisah, disertai panas tinggi tidak mau turun. Pengawas penjara Zhang Guo Quan dengan alasan ada orang membuat gaduh masuk ke dalam kamar tahanan, memukuli para narapidana, dan memakai sapu khusus memukuli tempat daerah-daerah luka si pelajar, hingga nanah dan darah bercucuran, sakitnya sampai menusuk hati, malam hari itu juga, dia telah pingsan.
Keesokan harinya, oleh petugas Kantor 610 yakni Fan Xiao Guang, Liu Wei Zhong, Ren Dian Sheng dan Zhao Ren Wu dibawa ke rumah sakit umum, dilakukan pertolongan darurat. Di saat membersihkan luka-luka, dokter tidak tahu harus ambil tindakan apa, di dalam proses pembersihan ada bagian yang menampakkan tulang yang berwarna putih, juga ada luka yang sudah tidak bisa dijahit lagi. Dokter mengatakan, orang tersebut meskipun keluar dari rumah sakit juga hanya bisa bertahan hidup beberapa hari, kemungkinan kena keracunan darah (septikaemia) besar sekali. Para petugas rumah sakit, menjadi berang mengecam: "Meskipun seorang hukuman pidana mati juga tidak boleh diperlakukan seperti ini, tidak lain hanya karena latihan Falun Gong bukan? Kalian ini apakah seorang polisi? Benar-benar adalah bandit, tidak ada perikemanusiaan!" Para polisi menghadapi pertanyaan yang menjunjung keadilan ini, menjadi bungkam seribu bahasa.
Saat menjalani opname, petugas Kantor 610 berkata, bila penyakitnya sudah sembuh, tetap harus dibawa kembali. Dua orang polisi, khusus ditugaskan di rumah sakit untuk mengawasinya, keluarga tidak diizinkan mendekat, pada siang hari mereka tidak tahu malu meminta orang tua si pelajar menraktir mereka makan. Orang tua melihat anak yang berbaring di atas ranjang, hati tidak tenang lagi, setelah menemui atasan dua polisi itu, baru bisa mendekati si pelajar dan merawatnya. Selama 20 hari lebih di rumah sakit, menghabiskan uang lebih dari 10.000 yuan, Kantor 610 setelah memeras keluarga sebanyak 4.000 yuan baru mengizinkannya dijemput pulang. Setelah pulang, kantor polisi mengutus petugas ke rumah dengan mengancam, bila ke Beijing lagi, orang tuanya akan ditangkap. Hampir setiap hari datang mengganggu, membuat keluarganya tidak tenang. Tapi yang melegakan, si pelajar tidak seperti apa yang diyakini oleh dokter akan kena keracunan darah, bahkan secara ajaib kesehatannya pulih kembali. Ia sekali lagi membuktikan Falun Dafa adalah supernormal.
(Sumber: Minghui.net)*

0 komentar:

 
Toggle Footer