Saya mengenal seorang praktisi Falun Gong (Falun
Dafa), dia yang berasal dari daerah Hei Longjiang adalah seorang pelajar
sekolah menengah atas. Pada saat ujian masuk perguruan tinggi, dia
telah menderita penyakit Prolapse of lumbar intervertebral disc,
terpaksa meninggalkan sekolah beristirahat di rumah untuk memulihkan
kesehatan. Orang tua tidak berani mengatakan kepada orang lain, khawatir
kelak sulit mendapatkan jodoh, setiap hari cemas karena dia.
Tahun 1996 orang tua sang pelajar melihat ada
beberapa orang di sekitarnya yang telah sembuh dari penyakitnya setelah
latihan Falun Gong, karena itu menyuruh anaknya yang sakit mengikuti
latihan senam dan meditasi itu. Di luar dugaan, setelah latihan dua
bulan lebih, penyakitnya menjadi sembuh, dalam kurun waktu itu sebutir
obat pun tidak terpakai, keluarganya pun merasa gembira.
Pada
tanggal 20 Juli 1999, Presiden China Jiang Zemin tidak mempedulikan
kenyataan sebenarnya, secara ilegal mulai menindas Falun Gong. Si
pelajar karena telah mendapatkan manfaatnya, dia mengetahui betul
propaganda media TV adalah menyimpang, sama sekali adalah cerita bohong.
Si pelajar memutuskan untuk pergi ke Beijing mengajukan masalah, dengan
pengalaman yang dialami diri sendiri, memberitahu negara "Falun Dafa
baik." Siapa menyangka Kantor Pusat Pengajuan Masalah telah menjadi
tempat khusus untuk menangkap praktisi Falun Gong, semua yang datang
satu pun tidak luput ditangkap. Setelah ditangkap, dia dibawa kembali ke
kantor polisi Zhaodong. Pada hari itu juga, empat orang dari Kantor 610
(Komisaris Politik dan Hukum Kota) Zhaodong, masing-masing Fan Xiao
Guang, Liu Wei Zhong, Ren Dian Sheng dan Zhao Ren Wu, memerintahkan
setiap kantor polisi melakukan penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong
yang ditangkap kembali.
Kepala kantor polisi yang
bernama Lie Xing Fu, memimpin polisi Ju Ya Gui, Yi Hong Bo, Tan Wei dan
Kepala Bagian Hukum Zhu Min serta beberapa polisi yang tidak dikenal
namanya, melakukan penindasan terhadap praktisi yang ditangkap kembali,
secara gila-gilaan. Dengan memakai sapu, sabuk kulit, galah bambu, sol
sepatu, mereka memukul praktisi tak henti-hentinya, dan juga memaksa
praktisi memaki-maki Falun Dafa, memaki Guru Li Hongzhi, pendiri Falun
Dafa. Si pelajar bagaimanapun tidak mau memaki, sehingga oleh 5-6 orang
polisi dipukul jatuh di lantai, celana panjang ditarik lepas, kepala
diinjak, dipukul bergantian, setelah capai gantian orang lain memukul
lagi, galah bambu dan sapu patah, kulit otot hancur, darah segar
bercucuran, meskipun demikian si pelajar juga tidak mau memaki guru.
Para polisi melihat dia masih tidak mau menyerah, polisi Ju Ya Gui
berteriak: "Ambillah garam, taburkan, coba lihat dia mau maki atau
tidak!" Entah polisi yang mana telah mengambil tiga untai kawat besi
yang dipelintir jadi satu, dengan menggunakan tang ujung kawat dibikin
mata kail, lalu mencambuk tubuh si pelajar. Otot tubuh sebagian besar
dipukul hingga bonyok, sangat mengerikan. Si pelajar dari awal hingga
akhir tetap tidak mau memaki guru, dia dengan keteguhan jiwa membela
Falun Dafa serta kehormatan guru.
Setelah
penyiksaan yang begitu kejam, para penjahat mengurung dia ke dalam
penjara, setiap hari hanya diberi dua setengah buah "wotou" (semacam
roti kukus dari tepung jagung) yang setengah matang, malam tidur tidak
ada bantal, hanya sebuah selimut di tempat tidur yang keras. Lingkungan
yang buruk, mempercepat lukanya menjadi parah, otot yang membusuk lebih
meluas, pada bagian yang paling parah terlihat tulang dan otot terpisah,
disertai panas tinggi tidak mau turun. Pengawas penjara Zhang Guo Quan
dengan alasan ada orang membuat gaduh masuk ke dalam kamar tahanan,
memukuli para narapidana, dan memakai sapu khusus memukuli tempat
daerah-daerah luka si pelajar, hingga nanah dan darah bercucuran,
sakitnya sampai menusuk hati, malam hari itu juga, dia telah pingsan.
Keesokan
harinya, oleh petugas Kantor 610 yakni Fan Xiao Guang, Liu Wei Zhong,
Ren Dian Sheng dan Zhao Ren Wu dibawa ke rumah sakit umum, dilakukan
pertolongan darurat. Di saat membersihkan luka-luka, dokter tidak tahu
harus ambil tindakan apa, di dalam proses pembersihan ada bagian yang
menampakkan tulang yang berwarna putih, juga ada luka yang sudah tidak
bisa dijahit lagi. Dokter mengatakan, orang tersebut meskipun keluar
dari rumah sakit juga hanya bisa bertahan hidup beberapa hari,
kemungkinan kena keracunan darah (septikaemia) besar sekali. Para
petugas rumah sakit, menjadi berang mengecam: "Meskipun seorang hukuman
pidana mati juga tidak boleh diperlakukan seperti ini, tidak lain hanya
karena latihan Falun Gong bukan? Kalian ini apakah seorang polisi?
Benar-benar adalah bandit, tidak ada perikemanusiaan!" Para polisi
menghadapi pertanyaan yang menjunjung keadilan ini, menjadi bungkam
seribu bahasa.
Saat menjalani opname, petugas
Kantor 610 berkata, bila penyakitnya sudah sembuh, tetap harus dibawa
kembali. Dua orang polisi, khusus ditugaskan di rumah sakit untuk
mengawasinya, keluarga tidak diizinkan mendekat, pada siang hari mereka
tidak tahu malu meminta orang tua si pelajar menraktir mereka makan.
Orang tua melihat anak yang berbaring di atas ranjang, hati tidak tenang
lagi, setelah menemui atasan dua polisi itu, baru bisa mendekati si
pelajar dan merawatnya. Selama 20 hari lebih di rumah sakit,
menghabiskan uang lebih dari 10.000 yuan, Kantor 610 setelah memeras
keluarga sebanyak 4.000 yuan baru mengizinkannya dijemput pulang.
Setelah pulang, kantor polisi mengutus petugas ke rumah dengan
mengancam, bila ke Beijing lagi, orang tuanya akan ditangkap. Hampir
setiap hari datang mengganggu, membuat keluarganya tidak tenang. Tapi
yang melegakan, si pelajar tidak seperti apa yang diyakini oleh dokter
akan kena keracunan darah, bahkan secara ajaib kesehatannya pulih
kembali. Ia sekali lagi membuktikan Falun Dafa adalah supernormal.
(Sumber: Minghui.net)*
0 komentar:
Post a Comment